Menlu Iran: AS Tak Akan Luput Dari Serangan Jika Israel Sasar Gaza

Jakarta, IDN Times – Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amirabdollahian, dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Kamis (26/10/2023) mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS). Iran menekankan bahwa jika sampai Washington tidak mengakhiri pembalasan Israel terhadap Hamas, maka AS juga tidak akan luput dari serangan.
“Saya katakan terus terang kepada negarawan Amerika yang kini menangani genosida di Palestina, bahwa kami tidak menyambut baik perluasan perang di wilayah tersebut. Namun jika genosida di Gaza terus berlanjut, mereka tidak akan luput dari serangan ini,” ungkapnya, dilansir Reuters.
Israel bersumpah untuk memusnahkan Hamas sebagai pembalasan atas serangan 7 Oktober 2023 lalu yang menewaskan 1.400 orang dan menyebabkan ratusan orang disandera. Belakangan, Israel dikabarkan tengah mempersiapkan invasi darat ke Jalur Gaza.
1. Tuntutan pembebasan warga Palestina yang ditawan Israel

Menurut Amirabdollahian, Hamas telah mengatakan kepada Iran bahwa mereka siap melepaskan sandera sipil. Akan tetapi, dunia juga harus mendorong pembebasan 6.000 warga Palestina di penjara-penjara Israel.
“Republik Islam Iran siap memainkan perannya dalam upaya kemanusiaan yang sangat penting ini, bersama dengan Qatar dan Turki. Tentu saja, pembebasan 6.000 tahanan Palestina merupakan kebutuhan dan tanggung jawab komunitas global,” ujarnya.
Dalam serangan pada 7 Oktober 2023 lalu, Hamas berhasil menyandera 200 lebih warga Israel. Ratusan sandera itu menjadi alat negosiasi Hamas terhadap Israel.
2. Dukungan untuk akhiri pengeboman Gaza

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, telah meminta negara-negara anggota untuk mengakhiri pemboman Israel di Jalur Gaza. Ia juga mendorong agar dunia meningkatkan pengiriman bantuan kepada 2,3 juta warga Palestina yang saat ini terkepung.
“Saya mengimbau Anda semua untuk memilih menghentikan pembunuhan itu. Pilihlah bantuan kemanusiaan untuk menjangkau mereka yang kelangsungan hidupnya bergantung padanya. Pilihlah untuk menghentikan kegilaan ini,” kata Mansour, dikutip Al Jazeera.
Mansour juga mengatakan bahwa banyak negara saat ini yang menerapkan standar ganda. Ia mempertanyakan sikap beberapa negara yang seolah abai terhadap bencana kemanusiaan di Gaza.
“Bagaimana perwakilan negara bisa menjelaskan betapa mengerikannya 1.000 warga Israel terbunuh dan tidak merasakan kemarahan yang sama ketika 1.000 warga Palestina terbunuh setiap hari? Mengapa tidak merasakan urgensi untuk mengakhiri pembunuhan mereka?” tambahnya.
Sementara itu, saat berpidato di Majelis Umum, utusan Israel Gilad Erdan menggambarkan serangan Hamas sebagai “pogrom” atau serangan kekerasan terhadap kelompok tertentu.
“Roket-roket itu hanyalah kedok untuk pogrom yang terjadi setelahnya. Teroris barbar Hamas menyerbu Israel dari laut, darat, dan udara. Mereka datang dengan satu tujuan, yakni membunuh dengan kejam setiap makhluk hidup yang mereka temui,” kata Erdan.
3. Korban tewas di Palestina capai 7 ribu orang

Pengepungan dan serangan Israel terhadap Gaza telah memicu kecaman yang semakin besar. Jumlah korban tewas terus meningkat dan para pejabat bantuan memperingatkan potensi bencana kemanusiaan.
Kementerian Kesehatan Palestina merilis jumlah korban tewas terbaru di Jalur Gaza akibat serangan Israel per 26 Oktober 2023, di mana jumlah korban tewas mencapai 7.028 orang.
Layanan medis di Gaza hampir terhenti karena pasokan bahan bakar terbatas akibat pengepungan Israel terhadap Gaza. Pada Kamis, Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa stok bahan bakar hampir habis. Badan tersebut juga terpaksa menghentikan layanannya.


















