Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Menlu Retno: Kemanusiaan Dipertanyakan di Konflik Dunia Saat Ini

Menlu Retno: Kemanusiaan Dipertanyakan di Konflik Dunia Saat Ini
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam acara Multi Faith Collaborations in An Inclusive Society. (IDN Times/Sonya Michaella)
Intinya Sih
  • Retno Marsudi soroti inklusivitas dalam kehidupan beragama
  • Permasalahan global kompleks, konflik terbuka mempertanyakan eksistensi solidaritas dan kemanusiaan
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Eksistensi solidaritas dan kemanusiaan dipertanyakan dalam sejumlah konflik terbuka yang sedang terjadi di dunia saat ini. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, kala membuka Konferensi Internasional Lintas Agama dan Budaya Institut Leimena.

“Saat ini, upaya perdamaian masih mendesak dan sulit dilakukan karena permasalahan global yang kita hadapi sangat kompleks dan yang paling memprihatinkan adalah klaim konflik yang lebih terbuka lebih banyak nyawa di seluruh dunia. Mulai dari perang di Ukraina hingga situasi di Afghanistan dan Palestina, mempertanyakan eksistensi solidaritas dan kemanusiaan,” kata Retno, dalam pidatonya, di Jakarta, Rabu (10/7/2024).

“Di Gaza saja, lebih dari 37 ribu orang tewas dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Semua kekejaman harus dihentikan. Manusia dan kemanusiaan harus dijadikan prioritas nomor satu,” ucap dia.

1. Pemahaman terhadap agama yang beragam sangat dibutuhkan

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam acara Multi Faith Collaborations in An Inclusive Society. (IDN Times/Sonya Michaella)
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam acara Multi Faith Collaborations in An Inclusive Society. (IDN Times/Sonya Michaella)

Retno juga menyoroti sejumlah konflik yang terjadi saat ini tidak bersifat keagamaan. Namun, kadang kala unsur-unsur keagamaan sering kali meningkatkan ketegangan.

“Oleh karena itu, pemahaman terhadap agama yang beragam menjadi krusial, sebuah upaya yang harus selalu kita pelihara. Kebebasan masing-masing agama harus dijamin secara hukum, keberagaman harus terjamin dihormati dan jangan sampai perbedaan agama kita menimbulkan fanatisme dan sebab-sebab ketegangan,” kata Retno.

2. ASEAN bertahan karena toleransi yang kuat

Ilustrasi ASEAN Indonesia 2023 (IDN Times/Trio Hamdani)
Ilustrasi ASEAN Indonesia 2023 (IDN Times/Trio Hamdani)

Retno menegaskan, Indonesia juga aktif dalam dialog dan diplomasi antaragama untuk penguatan toleransi.

“Jika hal ini tidak dilakukan, polarisasi sosial dapat meningkat menjadi ketegangan atau bahkan keterbukaan konflik. Kawasan kita, ASEAN, tidak kebal terhadap hal ini sebagai rumah bagi hampir 700 orang juta orang, ASEAN mewujudkan keberagaman. Banyak agama dan kepercayaan hidup berdampingan di dalam perbatasannya,” katanya.

Tanpa toleransi yang kuat, lanjut Retno, ASEAN tidak akan mampu bertahan lebih dari 5 dekade mencapai integrasi yang lebih besar.

“Untuk itu, Indonesia mengedepankan prinsip ‘Bhinneka Tunggal Ika’, Bhineka Tunggal Ika, untuk menumbuhkan pemahaman lintas agama dan lintas budaya. Prinsip ini harus terus kita pegang teguh menavigasi kompleksitas urusan global," kata dia.

3. Dorong inklusivitas

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam acara Multi Faith Collaborations in An Inclusive Society. (IDN Times/Sonya Michaella)
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam acara Multi Faith Collaborations in An Inclusive Society. (IDN Times/Sonya Michaella)

Lalu, Retno memaparkan, Indonesia juga senantiasa mendorong inklusivitas. Menurutnya, keyakinan yang beragam harus dilihat sebagai aset untuk advokasi perdamaian.

“Ketika pihak-pihak dari berbagai latar belakang berpartisipasi dialog yang konstruktif, solusi kami semakin tajam. Oleh karena itu, Indonesia bersungguh-sungguh melibatkan para pemimpin agama global,” ucap dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More