Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menteri Kuba Ngeluh soal Embargo AS: Kami Tak Punya Cadangan BBM

Menteri Kuba Ngeluh soal Embargo AS: Kami Tak Punya Cadangan BBM
potret bendera Kuba (pexels.com/STOUTfilmsHavana)
Intinya Sih
  • Menteri Energi Kuba, Vicente de La O Levy, mengungkapkan negaranya kehabisan cadangan bensin dan solar akibat embargo minyak dari Amerika Serikat.
  • Krisis energi makin parah karena pembangkit listrik tak beroperasi tanpa BBM, menyebabkan pemadaman hingga 22 jam per hari sementara Kuba sulit mencari pasokan baru.
  • Embargo AS yang sudah berlangsung sejak 1962 diperketat lagi di era Donald Trump, membuat negara lain takut menjual minyak ke Kuba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Energi Kuba, Vicente de La O Levy, mengeluhkan dampak embargo minyak Amerika Serikat yang dilakukan terhadap negaranya. Ia menyebut embargo itu kini membuat cadangan bahan bakar minyak (BBM) Kuba, seperti bensin dan solar habis total. 

“Kami tidak punya bahan bakar minyak dan tidak ada solar. Kita sama sekali tidak punya cadangan untuk semua itu. Oleh karena itu, Kuba terbuka untuk siapa pun yang ingin menjual minyaknya kepada kami," kata Vicente pada Rabu (13/5/2026), seperti dilansir The Guardian.  

1. Ketiadaan cadangan BBM memperburuk krisis energi listrik

Pasokan listrik.
ilustrasi pasokan listrik (pexels.com/Pixabay)

Vicente menambahkan, ketiadaan cadangan BBM ini memperburuk krisis energi listrik di Kuba. Sebab, pembangkit listrik di seluruh negeri tidak bisa beroperasi tanpa bahan bakar. Imbasnya, Vicente mengatakan pemadaman listrik jadi lebih sering dilakukan. Bahkan, frekuensinya bisa sampai 22 jam per hari. 

Untuk mengatasi masalah itu, Vicente mengatakan Kuba telah bernegosiasi dengan sejumlah negara. Langkah ini dilakukan agar mereka bisa mendapatkan pasokan minyak meski ada embargo dari Negeri Paman Sam. Namun, Vicente mengaku mendapatkan pasokan minyak tidak mudah imbas konflik di Timur Tengah.

Konflik di Timur Tengah yang dipicu perang antara Iran melawan AS dan Israel membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global, termasuk ke Kuba, terhambat. Ini terjadi karena AS dan Iran hingga kini masih melakukan blokade di Selat Hormuz. 

2. Kuba bergantung pada impor minyak

Kapal sedang berlayar di laut.
ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Jeffry Surianto)

Kuba sendiri memang sangat bergantung pada impor minyak dari luar negeri. Sebab, produksi minyak mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional yang jumlahnya sangat besar.

Dilansir Anadolu Agency, Kuba hanya bisa memproduksi sekitar 40.000 barel minyak per hari. Sementara itu, kebutuhan harian minyak di Kuba mencapai 90.000 sampai 110.000 barel per hari. 

Oleh karena itu, Kuba membutuhkan impor minyak dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan minyak nasional yang gagal dipenuhi pemerintah. Sayangnya, embargo AS mempersulit proses impor minyak tersebut.  

3. AS sudah mengembargo Kuba sejak 1962

Embargo.
ilustrasi embargo (unsplash.com/Sandy Millar)

Embargo yang dilakukan AS terhadap Kuba ini sudah terjadi sejak 1962. Namun, sejak Donald Trump menjabat lagi sebagai Presiden pada Januari 2025, Negeri Paman Sam makin gencar memberikan embargo terhadap Kuba, terutama untuk produk minyak dan gas bumi. 

Pada Januari lalu, Trump melarang negara mana pun untuk menjual minyak ke Kuba. Ia juga mengancam bakal memberi tarif dagang tinggi kepada negara-negara yang tidak mematuhi aturan tersebut. Inilah yang membuat Kuba tidak bisa mendapatkan pasokan minyak dari negara tetangga. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More