Negara Mana Saja yang Janji Amankan Selat Hormuz dari Iran?

- Sebanyak 22 negara, termasuk UEA, Inggris, dan Jepang, membentuk koalisi untuk mengamankan Selat Hormuz serta menuntut Iran menghentikan blokade dan serangan terhadap kapal komersial.
- Ketegangan meningkat setelah Iran membatasi navigasi di Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta drone, yang dibalas oleh operasi militer Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran.
- Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Teheran menegaskan hanya kapal dari negara sahabat yang diizinkan berlayar.
Jakarta, IDN Times- Sebanyak 22 negara merilis pernyataan bersama pada Sabtu (21/3/2026), untuk membantu mengamankan pelayaran di Selat Hormuz. Koalisi yang mencakup Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang ini mengecam blokade de facto oleh pasukan Iran dan menentang serangan terhadap armada kapal komersial serta berbagai infrastruktur sipil di kawasan Teluk.
Gangguan navigasi di Selat Hormuz telah menyebabkan lalu lintas pelayaran di wilayah perairan tersebut anjlok drastis. Data analitik Kpler mencatat hanya ada 116 pelintasan kapal pengangkut komoditas maritim antara 1 hingga 19 Maret. Angka tersebut menunjukkan penurunan hingga 95 persen jika dibandingkan dengan rata-rata pelayaran pada masa damai.
1. Iran didesak untuk patuhi hukum laut internasional

Negara-negara penandatangan mendesak Iran segera menghentikan ancaman, pemasangan ranjau, serta serangan rudal di Selat Hormuz. Tindakan memblokir pengiriman komersial dianggap melanggar prinsip kebebasan navigasi dan mereka menuntut Iran untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817.
Kebebasan bernavigasi sendiri merupakan hak yang dijamin secara hukum di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut. Kelompok 22 negara ini memperingatkan bahwa konsekuensi tindakan agresif Iran akan dirasakan secara global.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia atau sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap harinya. Penutupan akses telah memicu lonjakan pada harga energi maupun biaya asuransi pengiriman di banyak negara. Negara-negara koalisi juga menyambut baik keputusan Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepaskan 400 juta barel dari cadangan darurat demi menstabilkan pasar.
"Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi pada upaya yang tepat guna memastikan jalur aman melalui selat," tutur perwakilan 22 negara, dilansir The National.
2. Situasi semakin tegang sejak Selat Hormuz ditutup

Ketegangan semakin memanas ketika Iran mengumumkan pembatasan navigasi di Selat Hormuz pada 2 Maret lalu. Teheran memperingatkan bahwa semua kapal yang melintas tanpa koordinasi akan langsung dijadikan target serangan sebagai bentuk balasan atas operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Berbagai negara tetangga di kawasan Teluk turut terkena imbas besar dari eskalasi konflik yang sedang berlangsung. Kementerian Pertahanan UEA melaporkan telah menghadapi 341 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.748 drone sejak 28 Februari. Pada Sabtu saja, UEA menghalau tiga rudal balistik serta delapan drone kiriman Iran.
Pasukan AS balik merespons dengan menggempur fasilitas bawah tanah Iran di pesisir. Jet tempur AS menjatuhkan bom seberat 5 ribu pon guna menghancurkan gudang penyimpanan rudal jelajah antikapal.
Militer AS turut menyasar situs dukungan intelijen dan radar rudal Iran yang terus memantau pergerakan kapal. Rentetan serangan tersebut diklaim sukses melumpuhkan kapasitas militer Iran untuk menargetkan armada laut di perairan selat.
3. Trump ultimatum Iran untuk segera buka Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump merilis ultimatum yang bernada ancaman terkait blokade Selat Hormuz. Trump memberikan batas waktu 48 jam kepada Teheran untuk segera memulihkan pelayaran di selat.
"Jika Iran tidak membuka Selat Hormuz secara penuh dan tanpa ancaman dalam waktu 48 jam dari detik ini juga, Amerika Serikat akan menyerang dan melenyapkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu," tulis Trump, dilansir Al Jazeera.
Militer Iran segera merespons ultimatum dan mengancam balik. Teheran menyatakan pihaknya akan menyerang seluruh infrastruktur energi AS di kawasan Teluk.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengklaim Selat Hormuz sebenarnya belum ditutup sepenuhnya. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa beberapa kapal kargo dari negara bersahabat telah diizinkan berlayar secara aman.



















