Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sempat Terparah di Eropa, COVID-19 di Belgia Kini Mulai Reda

Sempat Terparah di Eropa, COVID-19 di Belgia Kini Mulai Reda
Papan informasi bertuliskan #staysafe. Unsplash.com/G-R Mottez

Brussels, IDN times - Perkembangan COVID-19 di Eropa hingga kini terus meningkat dan memaksa sejumlah negara untuk kembali menerapkan aturan lockdown, salah satunya di Belgia. Negara tersebut bahkan tercatat memiliki proporsi kasus virus tertinggi di Uni Eropa dengan jumlah 1.753 per 100.000 orang. Jumlah peningkatan itu lebih tinggi dari negara-negara besar seperti Spanyol, Inggris, dan Italia yang memiliki kurang dari sepertiganya.

Lonjakan baru pada bulan Oktober bahkan telah menyebabkan beberapa rumah sakit terpaksa menunda operasi yang bukan prioritas untuk fokus pada penanganan pandemi. Pemerintah Belgia sempat mengaku mulai kehilangan kendali atas situasi yang ada, hingga meminta agar masyarakat mengubah perilaku mereka secara radikal untuk mengontrol perkembangan virus. Tetapi kini, sebuah titik balik perlahan terlihat dimana tanda-tanda kasus mereda dilaporkan mulai tampak terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

1. Statistik penurunan terjadi selama lockdown

Perdana Menteri Belgia, Alexander De Croo (tengah), dalam lawatan kerja ke rumah sakit. Twitter.com/alexanderdecroo
Perdana Menteri Belgia, Alexander De Croo (tengah), dalam lawatan kerja ke rumah sakit. Twitter.com/alexanderdecroo

Pemerintah mengumumkan jumlah penurunan terjadi setelah penerapan pembatasan ketat dilakukan di seluruh negeri selama beberapa pekan, sejak tanggal 19 Oktober 2020. Pada penerapannya, semua bar dan restoran di seluruh negeri diwajibkan untuk tutup dan pertemuan di luar rumah hanya diperbolehkan dengan satu orang.

Melansir dari Associated Press, ahli virologi Steven Van Gucht dari kelompok kesehatan pemerintah Sciensano mengatakan bahwa pusat infeksi negara saat ini sudah dalam kondisi stabil. Statistik penurunan itu pun terjadi untuk pertama kalinya sejak sebulan berlalu. Tetapi terlepas dari optimisme yang kembali terlihat, Van Gucht mengingatkan bahwa aturan pembatasan yang ketat dan keras tetap perlu untuk dipertahankan karena situasi belum dapat dikatakan sepenuhnya membaik dan bisa kembali memburuk dalam waktu dekat.

2. Rawat inap rumah sakit masih terus meningkat

Ilustrasi foto orang memegang bola dunia bertuliskan pandemi. pexels.com/Anna Shvets
Ilustrasi foto orang memegang bola dunia bertuliskan pandemi. pexels.com/Anna Shvets

Meski Jumlah orang yang di test positif terinfeksi di Belgia mulai menurun selama seminggu terakhir, tetapi laporan dari Sciensano juga menyebutkan bahwa rawat inap di rumah sakit tetaplah mengalami peningkatan. Pada Rabu kemarin (4/11), The Brussels Times memberitakan bahwa antara 27 Oktober hingga 3 November, rata-rata presentase pasien dirawat di rumah sakit telah naik dari jumlah harian pada minggu sebelumnya.

"Kami memperkirakan jumlah pasien di unit gawat darurat akan meningkat dalam beberapa hari lagi," kata Van Gucht. Ada kekhawatiran bahwa kapasitas 2.000 tempat tidur di unit perawatan intensif akan penuh pada hari Jum'at besok, tetapi Van Gucht menambahkan bahwa meski jumlahnya tidak berkurang, situasi peningkatannya terlihat lebih lambat dari sebelumnya.

3. 'Tekanan' medis di rumah sakit Belgia

Foto penggunaan metode swab test. Unsplash.com/Mufid Majnun
Foto penggunaan metode swab test. Unsplash.com/Mufid Majnun

Dengan jumlah kenaikan kasus yang sangat signifikan dibanding negara lainnya, Belgia ditetapkan sebagai negara yang memiliki tingkat infeksi COVID-19 tertinggi di Eropa. Begitu banyak orang Belgia yang dikarantina bahkan menyebabkan tidak ada cukup polisi yang berjaga di jalan, kutip The Washington Post.

"Kami memiliki jumlah yang kabur dalam hal kontaminasi dan masalah utama adalah risiko runtuhnya sistem rumah sakit negara kami," kata Rudi Vervoort, Menteri pertama dalam pemerintahan daerah ibu kota Brussels.

Di beberapa rumah sakit, perawat yang telah dites positif tapi tanpa gejala bahkan tetap dipanggil untuk bekerja. Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Belgia mengatakan kepada CNN bahwa mengizinkan petugas kesehatan tanpa gejala untuk terus bekerja diperbolehkan dalam "kondisi yang sangat ketat" karena tidak ada cukup petugas kesehatan. "Kami berusaha menjamin keamanan semua pasien," tambahnya.

Situasi yang sangat bermasalah di unit perawatan intensif menyebabkan beberapa rumah sakit memperingatkan, mereka mungkin tidak dapat menjalankan semua tempat tidur ICU jika personelnya terlalu sakit. Meski pemerintah menyebutkan situasi "kritis" yang mulai surut, tenaga medis terus dibuat tertekan akan situasi yang dihadapi dan mengaku telah mengalami kewalahan parah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Calledasia Lakawa
EditorCalledasia Lakawa
Follow Us

Latest in News

See More

Serangan AS-Israel ke Iran Hancurkan Sinagoge Yahudi

08 Apr 2026, 04:10 WIBNews