Aktivis Orang Utan Birute Meninggal Dunia, Menhut Kenang Dedikasinya

- Birute Mary Galdikas, aktivis konservasi orang utan dunia, meninggal di Los Angeles pada usia 79 tahun setelah puluhan tahun berjuang melestarikan habitat orang utan di Kalimantan.
- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengenang pertemuannya dengan Birute yang dikenal tangguh dan berdedikasi, serta membuka kembali ruang dialog antara pemerintah dan aktivis konservasi.
- Birute berwasiat untuk dimakamkan di Kalimantan Tengah, tanah yang ia cintai dan tempat suaminya dimakamkan, sebagai simbol kecintaannya terhadap alam dan masyarakat Dayak.
Jakarta, IDN Times - Aktivis Konservasi Orang Utan Dunia, Birute Mary Galdikas meninggal dunia pada usia 79 tahun di Los Angeles, Amerika Serikat pada Selasa (24/3/2026).
Birute Galdikas adalah seorang konservasionis sekaligus profesor atau guru besar bidang konservasi orang utan. Ia banyak menghabiskan waktunya di Kalimantan, Indonesia, untuk berjuang melindungi kelestarian orang utan dan habitatnya.
Informasi meninggalnya Birute itu salah satunya datang dari Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni. Dalam unggahan di akun Instagramnya, Raja Juli mengaku mendapatkan kabar tentang kepergian Biruté Mary Galdikas menjelang tengah malam pada Selasa, (24/3/2026) dari sang anak, Fred.
“Atas nama Kementerian Kehutanan saya mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Bu Birute. Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk konservasi habitat orangutan,” kata Menhut.
1. Menhut kenang pertemuan dengan Birute

Raja Antoni mengenang sosok Birute Galdikas. Ia mengaku bertemu Birute saat awal menjadi Menhut.
Saat itu ia mengeklaim membuka kembali pintu Kemenhut usai depapan tahun tertutup rapat untuk Birute.
“Awal saya menjadi Menhut saya membuka kembali pintu Manggala untuk berdiskusi dengan para aktivis konservasi setelah, kabarnya, sekitar delapan tahun pintu itu tertutup rapat. Ibu yang tangguh itu menangis. Terharu. Mengingat suami dan kerja keras yang mereka lakukan selama ini, dan ‘pintu Manggala’ terbuka kembali untuk berdiskusi, bercengkrama bahkan menyampaikan kritik yang pedas sekalipun,” ujar Menhut.
2. Sosok Birute di balik Taman Nasional Tanjung Puting

Menhut mengatakan, bila tak ada sosok Birute, masyarakat Indonesia tak akan melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah dan terjaga.
“Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah-terjaga dengan orangutan yang membuat Anda bersdecak kagum, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan diawal tahu 70-an,” ujar dia.
3. Birute berwasiat disemayamkan di Kalimantan Tengah

Karena kecintaannya dengan orang utan dan tanah Kalimantan, Birute Galdikas berpesan kepada sang putra agar disemayamkan di Kalimantan Tengah.
“Bahkan Fred menyampaikan wasiat Bu Birute bahwa bila beliau meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, di Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara suaminya, seorang Dayak yang telah duluan pergi,” kata Menhut.
“Mengingat wasiat tersebut, saya kembali mengkonfirmasi kepada Fred apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Fred membenarkan dan akan mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA ke Jakarta di KJRI LA,” lanjutnya.



















