Mereka juga geram ketika tema dialog membahas mengenai nilai-nilai Pancasila. Sedangkan, dalam pandangan mahasiswa, di era kepemimpinan Prabowo-Gibran, tidak ada satu pun sila di dalam Pancasila yang telah diamalkan. Negara dianggap berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang pajak untuk program dan kunjungan luar negeri yang tidak bermanfaat.
Budiman Sudjatmiko Bantah Tuduhan Mahasiswa Jadi Pengkhianat Reformasi

- Budiman Sudjatmiko menegaskan dirinya tidak mengkhianati reformasi karena bergabung dengan pemerintahan Prabowo yang terpilih secara demokratis, bukan rezim otoriter.
- Budiman mengaku pernah menanyakan langsung kepada Prabowo soal penculikan aktivis dan menyebut semua korban tim Mawar telah kembali, sementara yang hilang bukan diambil oleh tim tersebut.
- Mahasiswa UGM memprotes dialog dengan pejabat Kabinet Merah Putih karena merasa pemerintah tidak mengamalkan nilai Pancasila dan memboroskan anggaran untuk program yang dinilai kurang bermanfaat.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko membantah tuduhan mahasiswa ia telah menjadi pengkhianat reformasi. Menurutnya, bergabung menjadi pembantu Presiden Prabowo Subianto tidak berarti ia telah mengkhianati reformasi. Apalagi Prabowo terpilih menjadi presiden lewat proses pemilu yang sah.
"Saya tak mengkhianati reformasi karena saya bergabung dengan pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Kecuali saya bergabung dengan pemerintahan otoriter," ujar Budiman kepada IDN Times lewat pesan pendek pada Selasa, 16 Juni 2026.
Tuduhan Budiman sebagai pengkhianat lantang disuarakan oleh sekelompok mahasiswa yang datang menggeruduk kopi darat tiga pejabat Kabinet Merah Putih di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin malam. Seorang mahasiswa mengaku kecewa terhadap Budiman karena dulu sempat ikut mendirikan Partai Rakyat Demokrasi (PRD) dan dipenjara usai peristiwa Kudatuli tahun 1996.
Ia sempat divonis penjara 13 tahun karena lantang menyuarakan penentangan rezim Orde Baru. Namun 28 tahun berlalu, Budiman ikut bergabung ke dalam rezim mantan menantu Soeharto.
Tetapi, menurut Budiman, Prabowo merupakan pemimpin yang sah dan dipilih oleh 58 persen pemilih di Tanah Air.
1. Budiman menyebut Prabowo akui tindak kejahatan terhadap aktivis

Lebih lanjut, ketika disinggung soal sejumlah aktivis pro demokrasi yang diculik oleh tentara, Budiman mengaku pernah menanyakan hal itu langsung kepada Prabowo. Ia mengeklaim Prabowo mengakui tim Mawar dari Kopassus memang menculik sejumlah aktivis. Tetapi, mereka semua telah kembali.
"Saya pernah menanyakan ini langsung kepada Pak Prabowo. Saya tanyakan 'di sana, teman-teman saya diculik. Bagaimana nasibnya? Dijawab yang saya culik dulu, yang saya ambil dulu semua selamat. ' Jadi itu yang disampaikan," katanya.
Ketika IDN Times tanyakan masih ada aktivis yang hingga kini belum kembali, Budiman menyebut mereka bukan diculik oleh tim Mawar. "(Yang belum kembali) bukan diambil oleh Pak Prabowo dan tim Mawar. Itu berdasarkan pengakuan teman-teman saya yang diculik lho," ungkapnya.
Budiman pun mengaku tak ikut diculik oleh tim Mawar karena saat peristiwa itu terjadi ia sudah dijebloskan ke dalam penjara pada 1996.
2. Budiman tak kapok diundang lagi berbicara di kampus

Meski melewati pengalaman yang tak menyenangkan pada Senin malam di UGM, tetapi politikus Partai Gerindra itu mengaku tidak kapok untuk diundang dan berdialog dengan mahasiswa di kampus. Bahkan, dalam pekan ini, sudah ada jadwal akan bertemu dengan sekretaris jenderal organisasi ekstra kampus yang dipimpin mahasiswa.
"Sudah ada beberapa BEM di sejumlah kota (yang mengundang). Bagi saya tidak ada masalah karena pada dasarnya Pak Prabowo minta kami melakukan dialog dengan mahasiswa dan menerima kritik," katanya.
Ia dan dua koleganya, Menteri Agraria dan Tata Ruang serta Wakil Menteri Pertanian, sudah siap menjadi sasaran tembak dan kritik oleh mahasiswa saat menghadiri acara kopi darat di UGM. Namun, ia tak menyangka sampai terjadi aksi pembubaran dialog. Dalam pandangannya, hal itu baru pertama terjadi.
"Itu saya rasa belum pernah saya dengar gerakan mahasiswa untuk demokrasi lalu membubarkan diskusi. Saya sama sekali belum pernah dengar," tutur dia.
3. Alasan emosi mahasiswa tersulut emosi dan menggeruduk panggung dialog

Sementara, di dalam keterangan tertulisnya, Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa UGM menjelaskan alasan mahasiswa terpantik emosi dalam dialog pada Senin malam, bermula dari tantangan dari tiga pejabat di Kabinet Merah Putih kepada publik, agar kritik bisa disampaikan langsung kepada pemerintah. Kritik jangan hanya diluapkan di media sosial saja. Di sisi lain, ketika kritik disampaikan di ruang publik justru berujung kriminalisasi.
"Kami terpantik ketika mereka bertiga di podium menantang publik untuk mengkritik secara langsung, bukan di media sosial," demikian kata BPPM Balairung UGM yang dikutip pada Selasa, 16 Juni 2026.
"Padahal, uang negara itu bisa mereka gunakan untuk pendidikan gratis, memperbaiki sekolah-sekolah, menambal defisit BPJS, dan mensubsidi BBM," katanya.
"Maka, omong kosong bicara Pancasila ketika pemerintah sendiri yang mengingkari nilai-nilai Pancasila itu sendiri," imbuhnya.
Mahasiswa UGM juga mempertanyakan mengapa pemerintah tak pernah menyentuh akar permasalahan untuk memperbaiki kondisi ekonomi dengan menyetop program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih. Padahal, program itu menyedot anggaran di APBN dalam jumlah besar.
"Siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?" tanya mereka.



















