Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ditanya soal Netflix Diblokir, Menkominfo: Bukan Urusan Pemerintah

Ditanya soal Netflix Diblokir, Menkominfo: Bukan Urusan Pemerintah
Menkominfo Johnny G Plate saat ditemui di JX International Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (23/11/2019). (IDN Times/Fitria Madia)

Jakarta, IDN Times - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate membantah akses penyedia layanan media streaming digital berbayar, Netflix, diblokir di Indonesia. Bahkan, ia menyebut dirinya masih bisa mengakses, karena ia juga berlangganan Netflix.

Menurut menteri dari Partai NasDem itu, pemblokiran akses Netflix dengan Telkom dan Telkomsel, adalah urusan antar-perusahaan. 

"Tetapi kaitannya dengan Internet Service Provider (ISP) dengan Netflix itu sudah bukan urusan pemerintah lagi. Pemerintah tidak bisa memaksa ISP harus bekerja sama dengan Netflix," ujar Johnny ketika berbincang dengan IDN Times dalam program Cek Fakta yang tayang live di Instagram, Selasa (14/4).

Keterbatasan akses terhadap tayangan Netflix sempat menuai kritik dari publik. Bagi pelanggan Telkomsel dan Telkom, maka mereka tidak bisa menikmati tayangan film di operator tersebut. 

Apa sesungguhnya yang menyebabkan Telkom Group masih memblokir Netflix? Selama ini pelanggan Telkom Group hanya bisa menyaksikan layanan streaming dari Iflix dan Hooq. 

1. Menkominfo berharap Netflix bisa bernegosiasi dengan para penyedia internet di Indonesia

Menkominfo Johnny G. Plate. (IDN Times/Hana Adi Perdana)
Menkominfo Johnny G. Plate. (IDN Times/Hana Adi Perdana)

Di dalam perbincangan tersebut, Johnny berharap Netflix bersedia bernegosiasi dengan para perusahaan penyedia layanan internet di Indonesia. Sebab, koleksi film yang ada di Netflix tidak akan mungkin bisa ditonton bila tanpa dukungan layanan internet. 

"Kan termasuk di dalamnya yang jadi ISP itu Telkomsel. Telkomsel kan memiliki layanan internet bernama Indihome, mereka punya Iflix, kan sama juga dengan Netflix. Barang kali berbeda jenis dan jumlah filmnya," tutur dia. 

Johnny mengakui tidak mungkin ikut campur dalam pembicaraan bisnis antara Netflix dengan perusahaan penyedia jasa internet, seperti Telkom Group. Karena itu, ia berharap platform digital dan aplikasi seperti Netflix harus bisa bekerja sama dengan penyedia jasa internet. 

"Karena mereka (ISP) sudah mengeluarkan investasi yang besar sekali untuk membangun infrastruktur telekomunikasi, apakah itu kabel fiber optik, satelit atau bahkan peralatan-peralatan lainnya yang ada di ground BTS yang jumlahnya mencapai setengah juta," jelas dia.

2. Alasan Telkom Group blokir akses Netflix sejak 2016

Ilustrasi (unsplash.com/freestocks)
Ilustrasi (unsplash.com/freestocks)

Sementara, Direktur Bisnis Digital Telkom Indonesia Faizal Djoemadi membenarkan hingga kini pihaknya belum membuka akses untuk pelanggan ke Netflix. Namun bukan berarti mereka menganakemaskan platform streaming lain seperti Iflix atau Hooq. 

"Semua pemain Over The Top (OTT) diperlakukan sama, tanpa pengecualian. Begitu juga dengan Netflix. Tapi Netflix tidak mau memenuhi satu persyaratan itu, yakni menarik konten bermasalah dalam 24 jam," kata Faizal, ketika diwawancarai media digital, KRAsia pada Januari lalu. 

Selain itu, Netflix juga memuat banyak konten yang tak dibolehkan di Indonesia, termasuk pornografi. Faizal kemudian membandingkan layanan Netflix dengan HBO. Apabila ada konten HBO yang dikeluhkan publik, seperti mengandung kekerasan atau pornografi, maka ketika diminta ditarik Telkom, mereka bersedia melakukan. 

Perkara Netflix masih bisa diakses provider lain, Faizal menjelaskan, masing-masing penyedia jasa memiliki kebijakan yang berbeda. Ia menyebut provider lain yang masih bisa membiarkan Netflix diakses, artinya mereka hanya mengeruk keuntungan dari layanan data. 

3. Netflix memiliki 167 juta pelanggan di seluruh dunia

Ilustrasi (unsplash.com/Thibault Penin)
Ilustrasi (unsplash.com/Thibault Penin)

Berdasarkan data yang dikutip dari laman Techcrunch Januari lalu, Netflix mengklaim telah memiliki 167 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia. Sebanyak 100 juta pelanggan berlokasi di luar Amerika Serikat. Perusahaan yang dipimpin Reed Hastings itu kini memiliki pendapatan mencapai US$5,47 miliar. 

Namun, mereka menghadapi persaingan ketat di Negeri Paman Sam, karena di sana diluncurkan dua layanan tontonan streaming yakni Disney+, Apple+, HBO Max, dan Peacock. 

Sementara, berdasarkan data dari situs nakono.com, jumlah pelanggan berbayar Netflix di Indonesia mencapai 482 ribu pada 2019. Angka ini meningkat dua kali lipat bila dibandingkan 2018. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Santi Dewi
Rochmanudin Wijaya
Santi Dewi
EditorSanti Dewi
Follow Us

Latest in News

See More

Polemik Tahanan Rumah Yaqut, Ketua KPK Belum Diperiksa Dewas

07 Apr 2026, 19:24 WIBNews