Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Hina Jurnalis dengan Sebutan Bodoh dan Ber-IQ Rendah

2 min read
Trump Hina Jurnalis dengan Sebutan Bodoh dan Ber-IQ Rendah
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump menghina Kaitlan Collins dan reporter ABC sebagai bodoh serta ber-IQ rendah ketika ditanya soal kemungkinan imbalan kepada Vladimir Putin atas pembebasan Stephen Hubbard.
  • Trump mempertahankan penangguhan sanksi baru terhadap Rusia, mengklaim keputusannya membantu membebaskan Hubbard, warga AS yang dipenjara Rusia sejak 2024.
  • Ketegangan Trump dan media meningkat setelah ia membentak reporter terkait program insentif pelapor, sementara hakim memerintahkan pemulihan kredensial jurnalis CNN, MS NOW, dan Politico.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan hinaan kepada sejumlah wartawan saat memberikan keterangan di luar Gedung Putih pada Rabu (21/10/2026). Ia menyebut jurnalis bodoh hingga ber-IQ rendah setelah Koresponden Kepala Gedung Putih CNN Kaitlan Collins dan reporter ABC News mempertanyakan kemungkinan adanya imbalan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas pembebasan warga AS.

Dilansir Newsweek, warga AS yang dibebaskan tersebut adalah Stephen Hubbard, pensiunan guru berusia 74 tahun asal Michigan. Ia dihukum penjara selama 6 tahun 10 bulan pada 2024 karena dituduh bertempur untuk Ukraina.

Trump merespons pertanyaan Collins dengan menyerang pribadi sang jurnalis dan menuduhnya menyebarkan berita palsu. Ia juga meragukan kecerdasan reporter ABC News serta menyebut jaringan media tersebut sebagai yang terburuk.

Saat membela keputusannya menangguhkan sanksi baru terhadap Rusia yang menuai kritik dari internal Partai Republik, Trump menyatakan dirinya berhak mengambil keputusan tersebut.

“Saya berhak melakukannya kapan saja,” kata Trump, dikutip The Independent.

  1. 1. Trump membentak wartawan soal program insentif pelapor

    ilustrasi liputan media
    ilustrasi liputan media (pexels.com/Boris Hamer)

    Perselisihan mengenai penangguhan sanksi Rusia menambah daftar ketegangan antara Trump dan awak media dalam beberapa hari terakhir. Sehari sebelumnya, di Ruang Oval, Trump meresmikan Program Insentif Pelapor Pelanggaran Penipuan yang menawarkan imbalan sebesar satu persen dari dana yang berhasil dipulihkan.

    Koresponden Gedung Putih Andrew Feinberg mempertanyakan alasan pemerintah membuat program tersebut. Pasalnya, Undang-Undang Klaim Palsu yang telah berlaku menawarkan imbalan lebih besar, yakni 10-25 persen.

    Trump berpendapat bahwa imbalan satu persen tetap merupakan jumlah uang yang besar. Ia kemudian meminta Feinberg untuk diam sekaligus memperingatkannya agar berhati-hati.

    “Saya sedang menjalankan tugas saya, dan saya akan kembali melakukannya besok,” katanya.

  2. 2. Trump mempertahankan penangguhan sanksi Rusia

    potret bendera Rusia
    potret bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

    Sebelum berangkat menghadiri rapat umum di South Carolina, Trump kembali mendapat pertanyaan dari wartawan mengenai penangguhan sanksi terhadap Rusia. Sanksi tersebut semestinya mulai berlaku dalam hitungan hari dan merupakan bagian dari undang-undang yang disahkan Trump pada bulan sebelumnya.

    Trump beralasan bahwa keputusan yang diambilnya berperan dalam pembebasan Hubbard. Ia menyatakan bahwa tanpa campur tangannya, pensiunan guru tersebut tak akan pernah dibebaskan dan kembali ke AS.

  3. 3. Hakim memerintahkan pemulihan kredensial jurnalis

    ilustrasi sidang
    ilustrasi sidang (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Perseteruan Trump dengan media semakin memanas sejak September 2026, ketika Gedung Putih melarang CNN, MS NOW, dan Politico melakukan peliputan. Pemerintah mencabut kredensial para jurnalis dari media tersebut dengan alasan mereka memberitakan berita palsu.

    Pemulihan akses peliputan kemudian ditempuh melalui jalur hukum. Hakim Distrik Timothy Kelly memerintahkan pemerintah untuk segera mengembalikan kredensial seluruh jurnalis yang terdampak pada 24 September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More