Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Masalah Anggaran Militer, Menhan Inggris Pilih Resign

Masalah Anggaran Militer, Menhan Inggris Pilih Resign
Ilustrasi bendera Inggris. (unsplash.com/chris robert)
Intinya Sih
  • John Healey mundur sebagai Menhan Inggris setelah berselisih dengan PM Keir Starmer soal anggaran pertahanan yang dinilainya tidak memadai menghadapi ancaman keamanan global.
  • Pemerintah Starmer membela rencana Defence Investment Plan dengan menegaskan peningkatan belanja militer terbesar dalam beberapa dekade secara berkelanjutan, serta menunjuk Dan Jarvis sebagai pengganti Healey.
  • Pengunduran diri Healey memperburuk posisi politik Starmer menjelang KTT NATO dan pemilu sela, di tengah menurunnya dukungan terhadap Partai Buruh akibat krisis kepercayaan internal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, mengundurkan diri setelah berselisih dengan Perdana Menteri (PM) Keir Starmer terkait rencana pengeluaran pertahanan pemerintah.

Dalam surat pengunduran diri yang dipublikasikan pada 11 Juni 2026, Healey menyatakan bahwa pemerintah gagal menyediakan pendanaan yang diperlukan untuk menghadapi meningkatnya ancaman keamanan. Ia menilai Rencana Investasi Pertahanan (Defence Investment Plan/DIP) yang sedang disusun "jauh dari yang dibutuhkan untuk pertahanan dan negara pada saat yang berbahaya ini," dilansir NHK News pada Jumat (12/6/2026).

1. Mundur demi prinsip anggaran

Healey menyoroti ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan anggaran pertahanan menjadi 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2030. Menurutnya, tingkat pendanaan yang diusulkan tidak cukup untuk mempercepat kesiapan tempur militer Inggris. Ia bahkan menyebut PM Starmer "tidak mampu" dan Kementerian Keuangan "tidak mau" mengalokasikan sumber daya yang memadai, guna menghadapi peningkatan ancaman global.

Laporan menyebutkan Kementerian Pertahanan (MoD) hanya mendapat tambahan 13,5 miliar poundsterling (sekitar Rp321,1 triliun) untuk empat tahun ke depan. Angka tersebut jauh dari ajuan awal sebesar 28 miliar poundsterling (Rp665,9 triliun).

BBC melaporkan, hanya berselang beberapa jam, Menteri Angkatan bersenjata Al Carns ikut mengundurkan diri. Carns mengatakan pemerintah gagal menyediakan sumber daya dan peralatan yang dibutuhkan militer untuk menjalankan tugasnya. Langkah yang sama juga dilakukan oleh anggota parlemen Partai Buruh, Pamela Nash. Ia mengundurkan diri sebagai asisten parlemen Healey di MoD.

"Kantor Perdana Menteri tidak mau mendengarkan bahwa investasi saat ini tidak memadai, jadi saya mengundurkan diri," ujar Carns, setelah sempat menyatakan akan bertahan melalui wawancara media.

2. Bagaimana tanggapan pemerintahan Starmer?

Ilustrasi latihan militer. (pexels.com/Art Guzman)
Ilustrasi latihan militer. (pexels.com/Art Guzman)

Menanggapi kritik tersebut, Starmer membela rencana pemerintah. Ia menegaskan bahwa DIP akan menghadirkan peningkatan belanja militer terbesar dalam beberapa dekade dengan cara yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Menurutnya, pemerintah terpaksa memangkas anggaran modal departemen lain sebesar 1 persen demi mengumpulkan 6 miliar poundsterling (Rp142,7 triliun) tambahan bagi pertahanan, daripada mengandalkan peminjaman yang tidak bertanggung jawab. Pemerintah sendiri tetap berkomitmen mencapai target belanja pertahanan 3,5 persen dari PDB pada 2035.

"Peningkatan pengeluaran yang menjadi landasan rencana ini akan berkelanjutan dan adil. Ini berarti alokasi ulang pendanaan yang signifikan dari berbagai departemen pemerintah dan pilihan yang tepat untuk melindungi negara kita. Mengambil keputusan ini tidak pernah mudah," kata Starmer.

Sebagai pengganti Healey, Starmer menunjuk Dan Jarvis, menteri keamanan sekaligus mantan perwira angkatan darat, sebagai menhan yang baru. Jarvis kini menghadapi tantangan untuk menyelesaikan rencana investasi pertahanan yang selama berbulan-bulan menjadi sumber perdebatan di dalam pemerintahan.

3. Posisi Starmer semakin terpojok

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (x.com/Keir Starmer)
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. (x.com/Keir Starmer)

Pengunduran diri Healey, yang merupakan sekutu terdekat Starmer, menjadi pukulan telak bagi Downing Street. Isu ini muncul menjelang KTT NATO di Turki bulan depan, yang awalnya ditargetkan Starmer sebagai tenggat waktu pengumuman rencana investasi pertahanan tersebut.

Healey menjadi menteri kabinet kedua yang mundur dalam beberapa pekan terakhir, setelah Menteri Kesehatan Wes Streeting juga hengkang akibat hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan perdana menteri. Rentetan kemunduran ini terjadi di tengah runtuhnya suara Partai Buruh pada pemilu lokal bulan lalu. Juga, menjelang pemilu sela penting, di mana kandidat internal Andy Burnham bersiap kembali ke Westminster dan berpotensi menantang kepemimpinan Starmer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella

Related Articles

See More