Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Korsel Targetkan Pangkas Angka Bunuh Diri Remaja Separuh pada 2035

4 min read
Korsel Targetkan Pangkas Angka Bunuh Diri Remaja Separuh pada 2035
ilustrasi bendera Korea Selatan (pixabay.com/KINNYtv)
  • Korea Selatan menargetkan angka bunuh diri remaja turun separuh pada 2035, setelah 244 siswa usia sekolah meninggal akibat bunuh diri sepanjang 2025, tertinggi sejak pencatatan 1983.
  • Masalah keluarga, kesehatan mental, akademik-karier, dan hubungan interpersonal tercatat sebagai faktor utama; ahli menekankan bunuh diri remaja umumnya dipengaruhi berbagai tekanan yang saling beririsan.
  • Studi menemukan 81 persen korban menunjukkan tanda peringatan, tetapi bantuan sering tak berlanjut; pemerintah akan memperbanyak tim darurat sekolah dan anggaran layanan kesehatan mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menargetkan penurunan angka bunuh diri remaja hingga setengahnya pada 2035. Target tersebut ditetapkan di tengah meningkatnya angka bunuh diri penduduk berusia 10—19 tahun yang mencapai rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1983.

Dilansir The Korea Herald, Korsel mencatat 244 kasus bunuh diri pada anak usia sekolah sepanjang 2025. Jumlah tersebut terdiri dari enam siswa sekolah dasar (SD), 92 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 146 siswa sekolah menengah atas (SMA).

  1. 1. Penyebab kasus bunuh diri remaja Korsel

    pembelajaran di kelas
    ilustrasi pembelajaran di kelas (pixabay.com/unique hwang)

    Menurut data Kementerian Pendidikan Korsel, masalah keluarga menjadi faktor yang paling sering tercatat, yakni 77 kasus. Masalah kesehatan mental tercatat dalam 58 kasus, disusul persoalan akademik dan karier sebanyak 54 kasus, serta masalah hubungan interpersonal sebanyak 38 kasus. Penyebab 79 kasus lainnya belum diketahui.

    Para ahli memperingatkan bahwa kasus bunuh diri remaja jarang disebabkan oleh satu faktor saja. Depresi dan kecemasan dapat beririsan dengan tekanan akademik, konflik keluarga, hubungan pertemanan, perundungan di sekolah, hingga kesulitan finansial. Media sosial juga dinilai dapat memperbesar tekanan yang dihadapi remaja.

  2. 2. Tanda peringatan kerap tak diikuti bantuan

    perundungan di sekolah
    ilustrasi perundungan di sekolah (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Studi yang dipimpin Hong Hyun Ju, profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Hallym meneliti 36 siswa SD — SMA yang meninggal akibat bunuh diri selama rentang 2015 hingga 2021. Sebanyak 29 siswa atau 81 persen menunjukkan tanda-tanda peringatan secara verbal, perilaku, atau emosional sebelum kematian mereka.

    Tanda verbal menjadi yang paling umum, ditemukan pada 69,4 persen kasus. Bentuknya mencakup ungkapan ingin meninggal atau merasa tidak berharga serta perubahan suasana hati yang mencolok.

    Dari 36 siswa tersebut, sebanyak 35 telah didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi. Akan tetapi, hanya tiga siswa yang rutin menerima pengobatan. Studi itu menyoroti stigma dan persepsi negatif terhadap gangguan mental sebagai hambatan bagi remaja untuk mencari atau melanjutkan perawatan.

    Hong mengatakan kepada media lokal bahwa sejumlah siswa telah meminta bantuan kepada guru atau orang tua, tetapi kekhawatiran mereka diabaikan atau tidak ditangani sebagaimana mestinya. Kondisi itu membuat mereka berusaha menghadapi masalah sendiri.

    "Kita membutuhkan autopsi psikologis untuk lebih memahami faktor-faktor risiko bunuh diri yang tidak selalu tampak. Kita juga perlu mengajarkan kaum muda cara mengenali dan mengekspresikan emosi mereka serta cara mengatasi masalah dengan cara yang sehat alih-alih menghindarinya," tutur Hong. 

  3. 3. Pemerintah targetkan angka bunuh diri remaja turun pada 2035

    bendera Korea Selatan
    ilustrasi bendera Korea Selatan (pixabay.com/KINNYtv)

    Pemerintah Korsel mengumumkan serangkaian kebijakan pada Oktober 2026 untuk menurunkan tingkat bunuh diri remaja hingga separuhnya, dari delapan kematian per 100 ribu penduduk pada 2024 menjadi 4,2 per 100 ribu penduduk pada 2035.

    Kementerian Pendidikan akan menambah jumlah tim kesehatan mental darurat yang mengunjungi sekolah, dari 56 tim pada 2025 menjadi 100 tim pada 2030. Pemerintah juga meningkatkan anggaran program voucer kesehatan mental bagi siswa, dari 8 miliar won (setara Rp108,48 miliar) menjadi 10 miliar won (setara Rp135,60 miliar) pada 2026. Program tersebut mencakup layanan konseling dan perawatan medis. 

    Kepala Riset Kebijakan Yayasan Korea untuk Pencegahan Bunuh Diri (KFSP) Kwon Se Won menilai bahwa program kesehatan mental di sekolah perlu menjangkau siswa sebelum mereka mengalami krisis. Menurutnya, sekolah juga perlu menyediakan waktu bagi seluruh siswa untuk menjaga kesehatan mental dan membangun ketahanan emosional, seiring tekanan sosial yang mereka hadapi di dunia nyata maupun dunia maya.

    Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

    Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:

    RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565

    RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025

    RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841

    RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601

    RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.

    Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

    Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More