Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PBB: Lebih dari 250 Ribu Warga Yaman Mengungsi akibat Perang

4 min read
PBB: Lebih dari 250 Ribu Warga Yaman Mengungsi akibat Perang
ilustrasi kamp pengungsi (unsplash.com/‪Salah Darwish)
  • UNHCR melaporkan lebih dari 250 ribu warga Yaman mengungsi sejak 1 Agustus hingga 17 Oktober 2026 akibat pertempuran, dengan Taiz menjadi pusat krisis utama.
  • Pengepungan Houthi di Taiz memutus jalur pasokan menuju Aden, menghambat bantuan bagi 800 ribu orang dan mengancam akses air bersih bagi sekitar tiga juta penduduk.
  • Kepadatan pengungsian dan minimnya air bersih memicu 8.034 kasus suspek kolera serta 27 kematian; WHO juga menghadapi kekurangan dana untuk respons darurat 90 hari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan lebih dari 250 ribu warga Yaman mengungsi akibat meningkatnya pertempuran antara kelompok pemberontak Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi pada Selasa (20/10/2026). Lonjakan pengungsi ini tercatat sepanjang 1 Agustus hingga 17 Oktober 2026 seiring meluasnya konflik bersenjata di berbagai penjuru negara tersebut.

Jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka naik tajam dari laporan sebelumnya yang mendekati 213 ribu orang. Kota Taiz di wilayah barat daya menjadi pusat krisis yang menyumbang 76 persen keberangkatan pengungsi sekaligus menampung 52 persen pengungsi baru. Sisanya tersebar di Provinsi Lahij sebesar 23 persen dan Kota Aden sebanyak 13 persen.

  1. 1. Sebanyak 33.700 keluarga pengungsi membutuhkan bantuan tempat tinggal

    ilustrasi kamp pengungsi
    ilustrasi kamp pengungsi (unsplash.com/ Julie Ricard)

    UNHCR bersama mitranya telah mendata 12.283 keluarga pengungsi di wilayah Abyan, Aden, Marib, Lahij, dan Taiz hingga pertengahan Oktober. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.050 keluarga dilaporkan belum memiliki tempat berlindung. Tim kemanusiaan baru berhasil menyalurkan bantuan tempat tinggal kepada 3.166 keluarga terdampak.

    Sekitar 33.700 keluarga pengungsi lainnya masih membutuhkan bantuan tempat tinggal di tengah krisis pendanaan kemanusiaan yang parah. Situasi keamanan yang memburuk juga memaksa penutupan kembali sekolah-sekolah di kamp pengungsi Kharaz, Provinsi Lahij, yang menampung 9.490 orang pada 11 Oktober lalu.

    "Kebutuhan paling mendesak yang berhasil kami identifikasi meliputi tempat tinggal, makanan, dan bantuan tunai multiguna," ujar Juru Bicara UNHCR, Matthew Saltmarsh, dilansir Al Jazeera.

    Selain di Taiz, rentetan serangan juga dilaporkan menghantam area dekat infrastruktur sipil di Kota Aden. Pembatasan akses dan ketidakamanan di jalur utama terus menghambat pergerakan warga maupun operasi bantuan kemanusiaan di wilayah selatan.

  2. 2. Pengepungan Houthi memutus akses air dan pangan bagi jutaan warga

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

    Kelompok bersenjata Houthi mengepung Kota Taiz sejak awal Oktober dan memutus jalur utama yang menghubungkan wilayah itu dengan ibu kota sementara Aden. Blokade ini memicu lonjakan harga kebutuhan pokok dan menghambat masuknya pasokan medis serta bahan bakar bagi jutaan penduduk. Program Pangan Dunia (WFP) mencatat penutupan jalan dan pergeseran garis depan pertempuran telah memutus akses bantuan penyelamat nyawa bagi 800 ribu orang yang sebagian besar berada di Taiz.

    Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) turut memperingatkan bahwa eskalasi pertempuran dan kelangkaan bahan bakar mengancam sistem distribusi air bersih di kota tersebut. Krisis air ini berdampak langsung pada sekitar tiga juta penduduk, termasuk sedikitnya 1,6 juta anak-anak.

    "Penutupan satu-satunya jalur pasokan yang menghubungkan Taiz ke Aden oleh Houthi menempatkan warga sipil dalam bahaya besar, menghalangi bantuan kemanusiaan, dan memutus pasokan penting. Bantuan kemanusiaan harus segera diizinkan masuk ke kota dan jalurnya harus difasilitasi," kata Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk.

    Pertempuran yang terus berlangsung di Provinsi Taiz juga telah menewaskan sedikitnya 32 warga sipil, termasuk 14 anak-anak, sejak awal Agustus hingga 19 Oktober. Pemerintah Yaman telah meminta intervensi PBB untuk mencabut blokade Houthi yang mengancam nyawa lebih dari 4 juta warga tersebut.

  3. 3. Wabah kolera memperburuk kondisi pengungsi Yaman

    Kepadatan di lokasi pengungsian serta minimnya akses air bersih memicu lonjakan kasus penyakit menular seperti kolera dan campak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kasus suspek kolera naik tiga kali lipat dalam tiga pekan hingga mencapai total 8.034 kasus dengan 27 kematian sepanjang tahun ini. Lima provinsi penampung pengungsi di wilayah barat daya, yakni Abyan, Lahij, Al-Dhale'e, Taiz, dan Aden, menyumbang 92 persen dari total kasus tersebut.

    "Keluarga yang melarikan diri dari konflik kini menghadapi ancaman lain dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati. Tanpa pendanaan mendesak serta akses tanpa hambatan ke air bersih, vaksinasi, dan layanan kesehatan penting, wabah dapat menyebar cepat di antara komunitas yang sudah rentan," tutur Direktur Darurat Regional WHO, Annette Heinzelmann.

    Beban fasilitas kesehatan semakin berat karena sekitar 500 klinik di sembilan provinsi terdampak kekurangan dukungan mitra saat harus merawat ribuan korban luka akibat pertempuran. Hingga 2 Oktober, lebih dari 3.800 warga Yaman terpaksa menyeberang ke Djibouti untuk menghindari kekerasan, sementara WHO masih kekurangan dana sebesar 26,7 juta dolar AS (Ro480 miliar) untuk menjalankan respons darurat selama 90 hari di Yaman.

    Di medan tempur, serangan rudal balistik Houthi ke kamp pelatihan militer al-Alam di Provinsi Shabwa pada Senin (19/10/2026) menewaskan sedikitnya 73 orang dan memicu kekurangan stok darah di rumah sakit Kota Ataq. Pasukan pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab Saudi membalas rentetan serangan sejak Houthi merebut wilayah pesisir Laut Merah bulan lalu itu melalui Operasi Fajar Yaman untuk merebut kembali wilayah mereka. Koalisi pimpinan Arab Saudi mengeklaim telah menghancurkan 127 gudang senjata Houthi dan mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More