Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Lonjakan Harga Energi Bebani Perempuan dalam Krisis Global

Lonjakan Harga Energi Bebani Perempuan dalam Krisis Global
Minyak Goreng (RDNE Stock project, Pexels.com)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
  • UN Women menyoroti lonjakan harga energi dan bahan bakar global yang memperburuk ketimpangan gender, karena perempuan lebih terdampak dalam mengatur kebutuhan rumah tangga di tengah krisis biaya hidup.
  • Perempuan sering menjadi peredam tekanan ekonomi keluarga dengan mencari alternatif murah, mengurangi konsumsi pribadi, serta menanggung beban kerja domestik dan perawatan tanpa bayaran yang semakin berat.
  • Krisis biaya hidup global meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan, kesehatan terganggu, dan kesejahteraan menurun bagi perempuan, sehingga diperlukan kebijakan ekonomi yang mempertimbangkan dampak berbasis gender.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Lonjakan harga energi dan bahan bakar global tidak hanya mempengaruhi kondisi ekonomi, tetapi juga berpotensi memperlebar ketimpangan gender. UN Women menilai perempuan kerap menjadi pihak yang paling terdampak dalam krisis biaya hidup, terutama karena mereka memikul tanggung jawab lebih besar dalam mengatur kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Dalam laporan Gender and the Cost-of-Living Crisis (2025) yang dirilis UN Women Data Hub, perempuan disebut sering berperan sebagai “peredam” tekanan ekonomi keluarga. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat dan anggaran rumah tangga semakin terbatas, perempuan cenderung mencari alternatif yang lebih murah meski membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, termasuk dalam memperoleh dan mengolah makanan bagi keluarga. Dalam situasi tersebut, perempuan juga lebih sering mengurangi konsumsi pribadi dan menjadi pihak yang makan paling sedikit serta terakhir di dalam rumah tangga.

"Dengan meningkatnya tekanan pada anggaran rumah tangga, perempuan sering bertindak sebagai ‘peredam guncangan’ selama krisis ekonomi dengan memilih cara yang lebih murah tetapi lebih memakan waktu untuk mendapatkan dan menyiapkan makanan bagi keluarga mereka atau makan paling sedikit dan terakhir," tulis laporan ini, dikutip Senin (13/4/2026).

Gangguan pasokan energi nasional di subsektor migas rentan terjadi dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada blokade Selat Hormuz. Ketegangan yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu menyebabkan gangguan arus keluar-masuk kapal tanker pengangkut bahan bakar.

1. Perempuan jadi peredam saat krisis ekonomi

Ilustrasi Minyakita
Ilustrasi Minyakita (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

UN Women dalam artikel opini Always on the Frontline in Every Crisis turut menegaskan, dampak krisis global tidak dirasakan secara setara antara laki-laki dan perempuan. Dalam berbagai krisis, baik ekonomi, konflik, maupun bencana, perempuan dan anak perempuan secara konsisten mengalami dampak yang lebih besar dan lebih kompleks.

Selain tekanan ekonomi, krisis juga berkontribusi pada meningkatnya beban kerja domestik perempuan. Masih merujuk pada publikasi yang sama, dalam kondisi ekonomi yang memburuk dan ketika anggaran publik semakin terbatas, perempuan lebih rentan kehilangan pekerjaan dibandingkan laki-laki. Namun pada saat yang sama, mereka justru mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan perawatan keluarga tanpa bayaran, seperti merawat anak, lansia, hingga mengelola kebutuhan rumah tangga.

2. Beban ganda perempuan

Minyak goreng merek Minyak Kita (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)
Minyak goreng merek Minyak Kita (Foto: IDN Times/Halbert Caniago)

Situasi ini menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga memperbesar ketimpangan dalam pembagian kerja di dalam rumah tangga. Perempuan kerap berada dalam posisi yang harus menyeimbangkan tekanan ekonomi sekaligus tuntutan sosial yang melekat pada peran domestik mereka.

UN Women juga memperingatkan tentang krisis biaya hidup global yang berisiko mengancam mata pencaharian, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan. Lonjakan harga energi, bahan bakar, serta pangan disebut sebagai faktor utama yang memperburuk kerentanan tersebut, terutama bagi perempuan di kelompok ekonomi rentan.

3. Krisis biaya hidup perburuk ketimpangan gender

Ilustrasi memasak
Ilustrasi memasak (freepik.com/freepik)

Dengan demikian, krisis biaya hidup global tidak hanya menjadi persoalan ekonomi semata, tetapi juga persoalan ketimpangan sosial yang memerlukan perhatian lebih luas dalam perumusan kebijakan.

Pendekatan yang mempertimbangkan dampak berbasis gender dinilai penting untuk mencegah semakin lebarnya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di tengah tekanan ekonomi global yang terus berlangsung.

"Krisis biaya hidup yang dihadapi dunia membahayakan mata pencaharian, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan," tulis UN Women.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Latest in News

See More