Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PDIP Sesalkan Letusan Senjata di Masjid saat Kericuhan Aceh

PDIP Sesalkan Letusan Senjata di Masjid saat Kericuhan Aceh
Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto usai hadiri peringatan HUT ke-81 RI bersama kader PDIP di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyesalkan kekerasan dan letusan senjata di masjid saat kericuhan peringatan Hari Damai Aceh, serta meminta aparat keamanan bertindak berkepala dingin.
  • Hasto menilai isu pengibaran bendera Bulan Bintang harus ditempatkan dalam konteks peringatan perdamaian Aceh, sehingga suasana kegiatan semestinya mengutamakan perdamaian.
  • PDIP mendorong penyelesaian akar persoalan Aceh melalui dialog dan musyawarah, termasuk menampung kritik warga bersama pimpinan masjid tanpa memperbesar ketegangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Sekjen DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto meminta aparat keamanan berkepala dingin, menyikapi kericuhan saat peringatan Hari Damai Aceh. Ia menyesalkan adanya kekerasan dan letusan senjata di tempat ibadah.

Hal itu disampaikan Hasto usai menghadiri peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bersama kader PDIP di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).

Hasto mengatakan persoalan pengibaran bendera Bulan Bintang di Aceh harus dilihat dalam konteks peringatan perdamaian Aceh. Menurut dia, suasana kebatinan dalam kegiatan tersebut seharusnya tetap mengedepankan perdamaian.

“Ya, kita termasuk aparat keamanan juga harus berkepala dingin, juga harus melihat konteks. Peristiwa di Aceh itu sebenarnya kan terjadi dalam upaya untuk memperingati perdamaian di Aceh. Suasana kebatinan seharusnya adalah perdamaian itu,” kata Hasto.

Dia meminta setiap persoalan yang muncul diselesaikan melalui dialog. Menurut Hasto, kritik atau aspirasi warga di sekitar tempat ibadah semestinya dapat dibicarakan dengan pimpinan masjid dan pihak terkait.

“Ketika ada pihak-pihak yang kemudian menyampaikan suatu kritik, mekanisme di tempat ibadah kita bisa bertemu dengan pimpinan di masjid tersebut, kemudian dialog. Bukan langsung penanganan-penanganan yang kemudian akhirnya menciptakan suasana yang panas,” ujarnya.

Hasto juga menegaskan tempat ibadah harus dihormati. Ia menyesalkan sampai terjadi letusan senjata di kawasan tersebut.

“Tempat ibadah juga harus kita hormati. Tidak boleh ada letusan senjata peringatan atau apa pun itu di tempat ibadah,” tegasnya.

Menurut Hasto, perdamaian Aceh merupakan sesuatu yang sangat mahal. Ia mengingatkan kembali pengalaman tsunami Aceh yang kemudian mendorong kesadaran berbagai pihak untuk menyelesaikan persoalan melalui dialog.

“Perdamaian itu sangat mahal. Kita tahu bagaimana saat itu terjadi tsunami di Aceh dan kemudian menimbulkan suatu kesadaran bagi kita untuk bersama-sama berdialog. Itulah yang harus dikedepankan,” katanya.

Hasto mengatakan akar persoalan di Aceh juga perlu dicari melalui dialog. Menurut dia, tak menutup kemungkinan adanya persoalan lain yang selama ini belum terselesaikan.

“Siapa tahu akar persoalannya adalah ternyata akumulasi dari berbagai persoalan-persoalan ketidakadilan yang selama ini tersumbat pintunya untuk dicari suatu solusi dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Karena itu, Hasto menegaskan, PDIP mendorong penyelesaian persoalan Aceh melalui dialog dan musyawarah. Ia meminta aparat maupun pihak-pihak yang terlibat tidak memperbesar ketegangan.

“Sikap PDI Perjuangan, karena perdamaian itu juga sangat mahal, kita ini negara yang menyelesaikan persoalan dengan dialog dengan musyawarah, maka langkah-langkah itu harusnya dilakukan,” katanya.

“Kami menyesalkan ketika kemudian terjadi tindak kekerasan, bahkan letusan senjata di tempat ibadah yang seharusnya kita jaga kesakralannya,” imbuh Hasto.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More