Pemprov DKI Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Dua Kali Sepekan Hadapi Kemarau

- Pemprov DKI Jakarta akan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca satu hingga dua kali sepekan untuk menghadapi kemarau yang diperkirakan lebih panjang.
- Peluang terbentuknya awan hujan selama kemarau dinilai kecil, tetapi pemerintah tetap menyiapkan modifikasi cuaca jika terdapat potensi awan yang dapat dimanfaatkan.
- BMKG memprediksi El Nino sangat kuat berpeluang berlangsung hingga awal 2027, mengurangi curah hujan dan membuat musim kemarau lebih kering serta panjang.
Jakarta, IDN Times – Pemprov DKI Jakarta akan menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan hingga dua kali dalam sepekan untuk menghadapi musim kemarau.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi BPBD DKI Jakarta dengan BMKG serta BNPB, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan 2023.
"Dan dari data yang ada, puncak El Nino itu akan panjang, mungkin salah satu yang terpanjang dibandingkan dengan tahun 2023 pada waktu itu. Puncaknya kurang lebih nanti akhir September atau pertengahan Oktober sampai Minggu pertama, kedua Oktober baru akan ada hujan," ujar Pramono di Balai Kota, Rabu (5/8/2026)
1. Peluang awan kecil

Dia mengatakan, peluang terbentuknya awan hujan selama musim kemarau cukup kecil. Namun, Pemprov DKI tetap akan mengupayakan modifikasi cuaca apabila terdapat potensi awan yang bisa dimanfaatkan.
"Problemnya adalah ada kemungkinan untuk bisa awan ada itu kecil. Tetapi saya sudah memerintahkan dan kita sudah mempersiapkan, kalau tadi malam itu termasuk rezeki anak sholeh itu, nggak ada awan tapi bisa dimodifikasi," kata dia.
2. Pemrov DKI gelar OMC dua kali

Untuk itu, Pramono telah menyetujui pelaksanaan operasi modifikasi cuaca secara rutin satu sampai dua kali seminggu.
"Jadi intinya tadi saya sudah memberikan persetujuan untuk kalau bisa setiap minggu itu satu-dua kali dibuat hujan buatan atau modifikasi cuaca," kata dia.
3. El Nino berlangsung sampai 2027

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis fenomena El Nino akan berlangsung setidaknya hingga awal 2027, kategori sangat kuat dengan peluang 75 persen. Hal ini berdasarkan perhitungan mereka di pertengahan Juli 2026.
Mereka juga memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli–September. Kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.
El Nino yang sangat kuat berdampak langsung terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar Tanah Air setidaknya hingga Oktober 2026.
Adanya peluang El Nino juga membuat musim kemarau kali ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. Kondisi ini memerlukan penyesuaian ekstra.




















