Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Armita Geravand Meninggal Dunia, Jadi Korban Polisi Moral Iran

Armita Geravand Meninggal Dunia, Jadi Korban Polisi Moral Iran
bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Jakarta, IDN Times - Armita Geravand, remaja Iran berusia 16 tahun yang diduga diserang oleh polisi moral karena tidak mengenakan jilbab, meninggal dunia. Ia dinyatakan mati otak pekan lalu setelah mengalami koma awal bulan ini.

"Sayangnya, dia mengalami koma selama beberapa waktu setelah menderita kerusakan otak. Dia meninggal beberapa menit yang lalu," lapor kantor berita resmi IRNA pada Sabtu (28/10/2023).

1. Geravand alami cedera otak parah

Menurut organisasi hak asasi manusia Hengaw, Geravand menderita luka parah setelah diserang oleh polisi moral di stasiun Shohada di Teheran pada 1 Oktober.

Kelompok itu mengatakan, Geravand dan teman-temannya dihentikan oleh polisi karena tidak mengenakan jilbab. Petugas disebut mendorong remaja itu sampai terjatuh, sehingga mengakibatkan kepalanya terbentur. Ia pun jatuh pingsan. Remaja itu dirawat di rumah sakit karena mengalami cedera otak parah.

Media pemerintah telah memublikasikan video Geravand yang diseret keluar dari kereta bawah tanah dalam kondisi tak sadarkan diri. Namun, tidak ada rekaman video di dalam kereta yang dirilis.

2. Pihak berwenang bantah Geravand diserang petugas

Iran membantah Geravand terluka akibat konfrontasi dengan polisi moral dan mengklaim bahwa remaja itu jatuh pingsan akibat tekanan darah rendah.

Masoud Dorosti, kepala Perusahaan Operasi Metro Teheran, juga mengatakan bahwa rekaman CCTV tidak menunjukkan tanda-tanda konflik.

Dalam video yang dibagikan oleh IRNA, orang tua Geravand mengatakan putrinya mengalami penurunan tekanan darah dan kehilangan keseimbangan, hingga kepalanya terbentur. Namun, kelompok hak asasi manusia mengatakan pernyataan itu dibuat di bawah tekanan.

3. Kasus Geravand mirip dengan Mahsa Amini

Kasus Geravand terjadi setahun setelah kematian Mahsa Amini pada September 2022. Perempuan berusia 22 tahun itu ditahan oleh polisi moral pada 13 September karena diduga melanggar aturan berpakaian bagi muslimah.

Polisi moral mengatakan, dia memakai jilbabnya terlalu longgar, yang dinilai bertentangan dengan aturan berpakaian di Iran yang mengharuskan perempuan menutupi rambut sepenuhnya.

Amini dilaporkan pingsan di tahanan polisi dan meninggal tiga hari kemudian. Polisi Iran mengatakan, dia meninggal karena serangan jantung dan tidak dianiaya, namun keluarganya meragukan hal tersebut.

Kematiannya memicu protes anti-pemerintah selama berbulan-bulan yang kemudian berkembang menjadi unjuk rasa oposisi terbesar terhadap pemerintah Iran selama bertahun-tahun.

Sejak revolusi Iran 1979, perempuan di negara tersebut diwajibkan untuk menutupi rambut mereka dan mengenakan pakaian panjang dan longgar. Mereka yang melanggarnya dapat dikenai teguran publik, denda atau penangkapan. Namun sejak kematian Amini, banyak perempuan mulai menentang aturan berpakaian di Iran, dikutip Reuters.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fatimah
EditorFatimah
Follow Us

Latest in News

See More

Lurah Kalisari Jaktim Dicopot Buntut Respon Laporan Warga Pakai AI

07 Apr 2026, 19:30 WIBNews