Serangan terhadap Masjid di Tepi Barat Melonjak Tajam sejak 2023

- Data ACLED mencatat serangan terhadap masjid di Tepi Barat naik dari rata-rata empat insiden per tahun pada 2017–2022 menjadi sekitar 10 insiden per tahun sejak 2023 hingga Juli 2026.
- Pemukim Israel membakar masjid di Qusra dan Kur pada 26 Juli; Masjid Qusra mengalami kerusakan besar, sementara api di Kur dipadamkan sebelum menjalar ke bagian dalam.
- Kementerian Wakaf Palestina mencatat 13 pelanggaran terhadap masjid sejak awal 2026 dan 45 serangan pada 2025, serta menyebutnya kampanye sistematis yang mengganggu kebebasan beribadah.
Jakarta, IDN Times - Data menunjukkan bahwa serangan terhadap masjid-masjid di Tepi Barat yang diduduki telah meningkat secara signifikan dalam satu dekade terakhir. Lonjakan paling tajam terjadi setelah Oktober 2023, ketika kelompok Hamas melancarkan serangan ke Israel yang kemudian memicu operasi militer besar-besaran di Gaza.
Sepanjang periode 2017 hingga 2022, Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED) mencatat 25 insiden yang menargetkan masjid di Tepi Barat atau rata-rata sekitar empat serangan per tahun. Pada 2023 hingga Juli 2026, jumlahnya meningkat menjadi 35 insiden, sehingga rata-rata serangan per tahun naik menjadi sekitar 10 insiden. Tahun 2026 mencatat jumlah serangan tertinggi sejak 2017, dengan total 11 insiden yang dilaporkan.
Serangan baru-baru ini terjadi pada 26 Juli, ketika pemukim Israel membakar sebuah masjid di desa Qusra di selatan kota Nablus. Dalam insiden terpisah, sebuah masjid yang baru selesai dibangun di desa Kur, dekat Tulkarem, juga dibakar dan dicoret dengan grafiti oleh para pemukim.
1. Masjid di desa Qusra telah beberapa kali jadi sasaran pembakaran

Abdul-Azim Wadi, mantan wali kota Qusra, mengatakan bahwa ini bukan kali pertama pemukim Israel membakar masjid di desa tersebut. Sebelumnya, mereka juga pernah membakar Masjid Thul-Nurayn dengan cara yang sama pada 2011.
"Hanya sehari sebelum kebakaran, warga desa sedang mengecat dinding bagian dalam dan memasang karpet sebagai persiapan untuk pembukaan masjid tersebut. Namun, kobaran api begitu hebat hingga melahap sebagian besar bangunan masjid dan bahkan membuat batu-batu dinding terlepas dari posisinya," ujar Wadi kepada The New Arab.
Di desa Kur, yang dinilai jauh dari permukiman Israel, imam masjid terkejut ketika mendapati kobaran api melalap pintu utama masjid saat waktu subuh. Beruntung, api dapat segera dipadamkan sebelum sempat menjalar ke bagian dalam masjid.
"Selama ini kami menganggap desa kami jauh dari permukiman dan serangan para pemukim. Namun, setelah masjid dibakar, kami khawatir terhadap keselamatan desa dan rumah-rumah warga, karena tampaknya tidak ada yang dapat menghentikan mereka untuk semakin mendekat," kata ketua dewan desa Kur, Hatem Jiyousi.
2. Menyasar keberadaan warga Palestina dan hak mereka untuk menjalankan ibadah

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mendokumentasikan 13 pelanggaran dan serangan terhadap masjid-masjid di Tepi Barat yang diduduki oleh tentara Israel maupun para pemukim sejak awal 2026. Pihaknya juga mencatat 45 serangan serupa yang dilakukan para pemukim sepanjang 2025, di bawah perlindungan tentara Israel.
Kementerian mengutuk keras apa yang disebutnya sebagai kejahatan keji tersebut. Menurutnya, penargetan dan pembakaran masjid merupakan bagian dari kampanye sistematis dan terencana yang menyasar keberadaan warga Palestina dan hak mereka untuk menjalankan ibadah.
"Serangan tercela ini sepenuhnya bertentangan dengan seluruh norma dan konvensi internasional yang menjamin kebebasan beribadah serta perlindungan terhadap tempat-tempat suci. Selain itu, berlanjutnya pelanggaran-pelanggaran ini hanya akan semakin memicu eskalasi dan ketegangan," kata kementerian.
3. Serangan terhadap masjid didorong oleh keyakinan ideologis para pemukim Israel

Menurut pakar urusan Israel, Amjad Shehab, pembakaran masjid sangat berkaitan dengan keyakinan ideologis para pemukim Israel, yang ia sebut sebagai doktrin Yosua bin Nun sebagaimana tercantum dalam sumber-sumber Alkitab. Ia menjelaskan bahwa para pemukim tidak memandangnya sekadar sebagai peristiwa sejarah, melainkan sebagai sebuah doktrin yang harus dijalankan.
Shehab mengatakan bahwa kelompok-kelompok Yahudi fundamentalis tersebut meyakini bahwa Tepi Barat seharusnya menjadi milik mereka. Oleh karena itu, keberadaan masjid maupun tempat ibadah lainnya di atas tanah tersebut dianggap sebagai bentuk pertentangan agama. Dengan membakar masjid, mereka berupaya memicu ketegangan dan memancing konfrontasi keagamaan dengan pihak Palestina.
"Melalui tindakan-tindakan ini, mereka berupaya menunjukkan dominasi dan memaksakan realitas yang menganggap Tepi Barat yang diduduki sebagai 'Yudea dan Samaria', sekaligus menyangkal keberadaan rakyat Palestina. Pesan-pesan tersebut juga tampak dalam slogan dan tulisan yang dipasang para pemukim di sejumlah lokasi," tutur Shehab.




















