WHO Serukan Perlindungan terhadap Fasilitas Kesehatan di Jalur Gaza

- WHO mendesak Israel menghentikan serangan dan melindungi fasilitas kesehatan Gaza, setelah gudang pasokan medis dekat Rumah Sakit Martir Al-Aqsa dibom pada 1 Agustus 2026.
- Pengeboman menghancurkan obat, cairan infus, serta perlengkapan dialisis dan perawatan intensif, memperparah kelangkaan medis dan mendorong sistem kesehatan Gaza ke ambang kehancuran.
- WHO mencatat hampir 1.000 serangan terhadap layanan kesehatan sejak Oktober 2023; di tengah gencatan senjata, serangan tetap berlanjut dan penarikan Israel dikaitkan dengan pelucutan senjata Hamas.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin (3/8/2026), menyerukan kepada Israel agar menghentikan serangan terhadap fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Seruan ini disampaikan menyusul serangan yang menargetkan gudang penyimpanan pasokan medis beberapa hari lalu.
"WHO menyerukan perlindungan terhadap layanan kesehatan. Fasilitas kesehatan tidak boleh diserang atau dimiliterisasi," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Anadolu.
Ia menambahkan bahwa situasi keamanan di wilayah Palestina tersebut masih tidak menentu meskipun adanya gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025. Situasi ini memaksa penduduk berjuang menghadapi kekurangan gizi, merebaknya penyakit dan minimnya akses terhadap layanan kesehatan.
1. Pasokan medis hancur akibat serangan Israel

Pada Sabtu (1/8/2026), pesawat tempur Israel mengebom gudang penyimpanan pasokan medis yang terletak di sebelah Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah. Serangan tersebut merusak bangunan utama dan menghancurkan peralatan medis, termasuk barang-barang yang baru saja dikirimkan oleh WHO.
"Pengeboman tersebut menyebabkan hilangnya sejumlah besar cairan infus, obat-obatan, serta berbagai perlengkapan yang digunakan di unit-unit vital, termasuk unit cuci darah dan perawatan intensif," kata juru bicara Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Khalil al-Daqran.
Ia memperingatkan bahwa kehancuran tersebut akan menimbulkan dampak serius terhadap layanan kesehatan, terutama di tengah kelangkaan serius obat-obatan dan bahan habis pakai medis.
2. Sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan terhadap gudang pasokan medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa telah mendorong sistem kesehatan di wilayah tersebut ke ambang kehancuran. Mereka menyebut serangan itu sebagai kejahatan keji dan menyerukan intervensi internasional segera untuk melindungi fasilitas medis.
Sejak Oktober 2023, WHO telah mencatat hampir 1.000 serangan Israel. terhadap layanan kesehatan di Gaza. Lebih dari 1.000 orang tewas dan 1.700 lainnya terluka akibat serangan-serangan tersebut.
3. Serangan Israel tewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan militer Israel di wilayah tersebut telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai lebih dari 174 ribu lainnya sejak melancarkan perang genosidanya hampir 3 tahun lalu. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diterapkan sejak 10 Oktober 2025, Israel masih terus melancarkan serangan di Gaza, yang menewaskan 1.250 warga Palestina dan melukai 4.110 lainnya.
Dalam perkembangan terbaru, Dewan Perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa penarikan tentara Israel dari Gaza hanya akan dilakukan setelah pelucutan senjata Hamas rampung. Di sisi lain, Hamas menegaskan bahwa kesepakatan itu tidak akan dilaksanakan sampai Israel terlebih dahulu menjalankan kewajibannya sesuai perjanjian, dilansir Al Jazeera.




















