Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mendagri Sebut Biaya Sekolah di Singapura Lebih Murah Ketimbang Jakarta

Mendagri Sebut Biaya Sekolah di Singapura Lebih Murah Ketimbang Jakarta
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian saat menghadiri Rakornas Dukcapil di Hotel Bidakara, Jakarta (3/8/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Intinya Sih
  • Mendagri Tito Karnavian mengaku biaya menyekolahkan tiga anak di Singapura lebih murah daripada Jakarta saat ia menempuh studi doktoral selama empat tahun.
  • Di Singapura, pendaftaran sekolah dilakukan daring memakai FIN; sekolah bersubsidi dan dekat rumah mengurangi biaya transportasi, kendaraan, sopir, serta bahan bakar.
  • Tito menilai digitalisasi layanan publik terintegrasi berbasis data Dukcapil penting untuk mempermudah, mempercepat, dan menepatkan sasaran layanan pendidikan hingga bantuan sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan pengalamannya saat menempuh pendidikan doktoral di Singapura. Ia mengaku justru mengeluarkan biaya yang lebih murah untuk menyekolahkan tiga anaknya di negara tersebut dibandingkan ketika bersekolah di Jakarta.

Cerita itu disampaikan Tito saat menjelaskan pentingnya digitalisasi pemerintahan atau e-government dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dukcapil di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (3/8/2026). Menurutnya, kemudahan layanan publik yang terintegrasi dengan kualitas pendidikan yang merata membuat biaya pendidikan di Singapura menjadi lebih efisien.

"Saya merasa kok lebih murah kok di Singapura nyekolahin anak dibanding dengan saya di Jakarta, jujur aja," kata Tito.

1. Cerita Tito ambil program doktor selama empat tahun di Singapura

IMG-20260629-WA0025.jpg
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian di Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (29/6/2026) (dok. Kemendagri)

Ia menceritakan, saat bertugas belajar mengambil program doktor selama empat tahun di Singapura, dirinya tidak perlu mendatangi sekolah satu per satu untuk mendaftarkan anak-anaknya.

Sebagai warga negara asing, Tito memperoleh Foreign Identity Number (FIN). Nomor identitas tersebut digunakan untuk mengakses portal Kementerian Pendidikan Singapura secara daring.

Melalui sistem itu, ia cukup memasukkan data ketiga anaknya. Beberapa hari kemudian, pemerintah Singapura mengirimkan pemberitahuan melalui surat elektronik mengenai sekolah yang akan ditempati masing-masing anak.

2. Sekolah disubsidi dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki

bendera Singapura
bendera Singapura (unsplash.com/Justin Lim)

Tito menilai biaya pendidikan di Singapura lebih rendah bukan semata karena uang sekolahnya lebih murah, melainkan karena sistem pendidikan yang terintegrasi mampu memangkas berbagai pengeluaran lain.

Ia membandingkan pengalamannya ketika anak-anaknya bersekolah di salah satu sekolah favorit di Jakarta Selatan. Saat itu, biaya sekolah mencapai sekitar Rp1,6 juta per anak setiap bulan atau Rp4,8 juta untuk tiga anak. Belum lagi, Tito harus menanggung uang saku harian, membeli kendaraan, membayar sopir, hingga biaya bahan bakar karena lokasi sekolah cukup jauh dari rumah.

"Anak-anak saya itu sekolah di salah satu sekolah anak saya nyebut, di Jakarta Selatan, yang nggak jauh dari tempat saya kerja di Mabes Polri. Sekolah favorit. Satu anak Rp1,6 juta. Tiga anak Rp4,8 juta. Saya harus ngasih makan mereka, uang jajan 50 ribu ya. Per hari, tiga orang jadi 150 ribu. Karena jauh dari rumah ya, dan saya nggak bisa nganter, saya ngasih juga butuh kendaraan, saya harus beli kendaraan buat anak-anak saya, bertiga. Setelah itu perlu supir, bayar supir. Perlu bensin. Ya kan? Jadi hitungannya, Rp4,8 juta, ditambah supir, ditambah beli mobil, tambah bensin, tinggi," ungkapnya.

Sementara di Singapura, pemerintah memberikan subsidi pendidikan sehingga biaya sekolah hanya sekitar 100 dolar Singapura per bulan. Dengan nilai tukar saat itu sekitar Rp6.000 per dolar Singapura, biaya pendidikan yang dibayarkan sekitar Rp600 ribu per anak.

"Ketika saya di Singapura, karena sekolahnya standar semua SD-nya. Jangan salah. Itu di Singapura, mereka enggak punya sumber daya alam. Natural resources-nya nggak ada. Jadi mereka invest di human capital, human resources. 30 persem anggaran untuk pendidikan. Sehingga sekolahnya standar semua SD-nya. Nah begitu standar semua, makanya menggunakan sistem zonasi. Kita begitu email, masukkan ke portal pelayanan publik tadi tanpa harus ke sana, dia kita dipilihkan sekolah yang terdekat dari rumah," ucap Tito.

Selain itu, sekolah yang ditetapkan berada dekat dengan tempat tinggal, sehingga anak-anaknya cukup berjalan kaki sekitar lima hingga tujuh menit.

"Jadi kita sekolah jalan kaki, karena cuma 5 sampai 7 menit. Mereka lebih sehat, tidak perlu beli mobil, nggak perlu sopir, nggak perlu minyak. Jadi intinya kalau ngerti tekniknya, triknya bisa lebih murah," ujarnya.

3. Digitalisasi layanan jadi kunci

IMG_20260803_094156.jpg
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian saat menghadiri Rakornas Dukcapil di Hotel Bidakara, Jakarta (3/8/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Menurut Tito, efisiensi tersebut tidak terlepas dari sistem pemerintahan digital yang telah diterapkan Singapura. Ia mengatakan seluruh proses pendaftaran sekolah dilakukan secara daring melalui satu portal layanan pemerintah tanpa perlu mendatangi kantor pendidikan maupun sekolah.

Pengalaman itu bisa menjadi salah satu contoh bagi pemerintah Indonesia untuk mendorong penerapan Electronic Government atau Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Ia menjelaskan, nantinya berbagai layanan publik, mulai dari pendidikan, kesehatan, bantuan sosial hingga layanan administrasi lainnya akan diintegrasikan dalam satu aplikasi dengan memanfaatkan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).

"Data yang terlengkap dan paling update itu adalah data Dukcapil. Karena itu menjadi fondasi utama untuk membangun e-government agar pelayanan publik lebih mudah, cepat, dan tepat sasaran," kata Tito.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More