Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Survei SMRC: Elektabilitas Dedi Mulyadi Unggul dari Anies dan Prabowo

3 min read
Survei SMRC: Elektabilitas Dedi Mulyadi Unggul dari Anies dan Prabowo
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. Istimewa
  • SMRC merilis survei elektabilitas sejumlah tokoh untuk melihat peta kekuatan politik nasional menjelang Pemilu 2029.

  • Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dalam simulasi semi terbuka 24 nama dengan elektabilitas 35,5 persen.

  • Survei melibatkan 1213 responden pada 1-10 Oktober 2026 dengan margin of error +/- 2.9 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) merilis hasil survei elektabilitas sejumlah tokoh melalui berbagai simulasi banyak nama untuk melihat peta kekuatan politik nasional menjelang Pemilu 2029.

Dalam simulasi semi terbuka untuk 24 nama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan tingkat elektabilitas sebesar 35,5 persen. Anies Baswedan berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas 10,3 persen, disusul Presiden Prabowo Subianto yang mencapai 9,8 persen dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar 8,4 persen.

"Simulasi semi terbuka (24 nama), Dedi Mulyadi meraih dukungan paling tinggi 35.5 persen, kemudian Anies Baswedan 10.3 persen, Prabowo Subianto 9.8 persen, Gibran Rakabuming Raka 8.4 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 5 persen, dan Ganjar Pranowo 5 persen nama lain dukungannya masih kurang dari 3 persen. Massa mengambang ada 13.9 persen," demikian hasil survei SMRC dikutip IDN Times, Kamis (22/10/2026).

  1. 1. Elektabilitas Prabowo paling buncit di simulasi tiga nama

    Presiden Prabowo Subianto membuka pidatonya dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 tahun pemerintahan di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/
    Presiden Prabowo Subianto membuka pidatonya dalam Sidang Kabinet Paripurna 2 tahun pemerintahan di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

    Sementara itu, dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Gibran Rakabuming Raka tercatat sebesar 29,7 persen, diikuti Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebesar 28,2 persen. Adapun elektabilitas Presiden Prabowo Subianto berada diangka 22,7persen.

    Menariknya, dalam simulasi dua nama, elektabilitas AHY tercatat lebihtinggi, yakni sebesar 41,6 persen, dibandingkan Gibran yang memperoleh 36,0 persen.

    "Dalam simulasi dua nama, AHY mendapat dukungan 41,6 persen, kemudian Gibran 36 persen. Ada 22,4 persen yang tidak tahu/tidak jawab," tulis SMRC.

  2. 2. Efek tahu terhadap elektabilitas AHY, Gibran dan Prabowo

    AHY.jpg
    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)/Dok. FORTUNE IDN/Desy Y.

    Survei SMRC juga memotret efek tahu terhadap elektabilitas para tokoh, termasuk AHY, Gibran dan Prabowo. Dalam simulasi tiga nama, AHY unggul sebesar 37,2 persen. Ia unggul atas Gibran yang hanya memperoleh 25,5 persen. Adapun, Prabowo hanya memperoleh 19,2 persen.

    Kemudian, untuk simulasi dua nama, elektabilitas AHY unggul jauh sebesar 51,1 persen daripada Gibran yang hanya memperoleh 28,7 persen. Survei SMRC menyimpulkan, Dedi Mulyadi unggul jauh karena hampir semua orang mengetahuinya. Nama Dedi bahkan jauh lebih positif dari yang lain, terutama ketua umumnya Prabowo Subianto.

    Gibran dan AHY seimbang kalau keduanya harus bersaing dengan Prabowo. Namun, prospek AHY jauh lebih besar bila berhadapan dengan Gibran.

  3. 3. Metodelogi survei SMRC

    ilustrasi survei kebutuhan pelanggan (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi survei kebutuhan pelanggan (pexels.com/Pixabay)

    Survei SMRC digelar pada 1-10 Oktober 2026 bertepatan dengan momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, yang melibatkan 1213 responden. Margin of error survei diperkirakan +/- 2.9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.

    Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi) di antaranya WNI berusia 17 atau lebih tahun yang telah menikah dan punya HP dan tidak punya HP.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More